Karya Ilmiah/Artikel

Lemahnya Kesadaran Masyarakat Akan Fungsi TAHURA

Artikel – Kabupaten Batang Hari memiliki salah satu potensi alam yang sangat luas namun masih minim pengelolaannya. Bahkan, masyarakat cenderung melihat potensi hutan hanya sebagai lahan perkebunan.

Hal itu tercatat dalam karya ilmiah Mahasiswa/i Universitas Jambi di Jurnal Silva Tropika vol.9, No. 2, Desember 2025 yang berjudul Persepsi Masyarakat Terhadap Fungsi Taman Hutan Raya Sultan Thaha Syaifuddin Jambi.

Dalam jurnal tersebut, mereka menyimpulkan bahwa persepsi masyarakat terhadap fungsi Tahura STS sebagai fungsi pendidikan, penelitian, sosial budaya, serta wisata dan rekreasi Jambi menunjukkan persepsi buruk, terutama pada fungsi pendidikan dan penelitian.

Sementara itu, fungsi sosial budaya dan wisata–rekreasi dinilai sedang, menunjukkan bahwa meskipun ada potensi, manfaat kawasan belum sepenuhnya dirasakan oleh masyarakat.

Faktor utama yang memengaruhi rendahnya persepsi masyarakat adalah tingginya ketergantungan terhadap lahan perkebunan, rendahnya tingkat pendidikan, keterbatasan modal, serta minimnya keterlibatan masyarakat dalam kegiatan pengelolaan Tahura STS.

Kondisi ini mengindikasikan perlunya kebijakan pengelolaan yang lebih inklusif dengan melibatkan masyarakat desa penyangga, penguatan fungsi pendidikan dan penelitian, serta pengembangan pariwisata berbasis konservasi yang mampu memberikan manfaat ekonomi nyata bagi masyarakat sekitar.

Penelitian dilaksanakan pada November hingga Desember tahun 2023 di desa penyangga yaitu desa Jangga Baru, Kecamatan Batin XXIV, Kabupaten Batanghari. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik proportional random sampling yang bertujuan agar anggota populasi memiliki kesempatan yang sama untuk terpilih sebagai sampel, serta keterwakilan populasi secara proporsional. Sebanyak 965 Kepala Keluarga (KK) dari keselurahan dalam populasi, selanjutnya menggunakan rumus Slovin dengan tingkat kesalahan sebesar 10%, sehingga didapatkan sebanyak 90 KK. Instrumen penelitian disusun menggunakan skala Likert tiga poin mulai dari skor 1 (buruk), skor 2 (sedang), dan skor 3 (baik).

Karakteristik Respoden :

Mayoritas masyarakat Desa Jangga bermata pencaharian sebagai petani dengan ketergantungan yang sangat tinggi terhadap sumber daya lahan, terutama pada komoditas kelapa sawit dan karet. Sebagian besar petani menyampaikan bahwa pekerjaan sebagai petani dianggap tidak membutuhkan pendidikan formal yang tinggi.

BACA JUGA  Dasar Dampak dan Pencemaran yang Harus Diketahui Sobat Sang Hijau

Hal ini ditunjukkan sebanyak 45 persen responden merupakan lulusan sekolah dasar. Responden juga menyampaikan bahwa keterbatasan modal menjadi salah satu alasan masyarakat melakukan perambahan di kawasan hutan untuk dijadikan lahan perkebunan, yang kemudian diikuti oleh para pendatang.

Penelitian serupa menunjukkan bahwa rendahnya tingkat pendidikan dan keterbatasan modal menjadi faktor pendorong masyarakat sekitar hutan melakukan aktivitas perambahan hutan menjadi perkebunan (Babigumira et al., 2014; Khuc et al., 2020; Yonariza & Webb, 2007), faktor ekonomi dapat dikatakan menjadi determinan utama terjadinya konversi hutan, terutama masyarakat yang menggantungkan hidupnya pada sektor perkebunan.

Responden juga mengakui adanya aktivitas jual beli lahan di kawasan hutan, sesuai dengan hasil penelitian Budiandrian et al., (2017) menyebutkan bahwa praktik eksploitasi di kawasan Tahura STS terjadi secara legal dan ilegal, akibat adanya perubahan kebijakan tata kelola kawasan yang diawali pada tahun 1933, kemudian dilajutkan adanya jual beli oleh masyarakat Suku Anak Dalam Bathin Sembilan tahun 1986 pada program “merumahkan” oleh pemerintah.

Persepsi Masyarakat terhadap Fungsi Tahura STS Jambi :

Persepsi merupakan proses psikologis yang melibatkan penerimaan dan pengolahan informasi sehingga membentuk pehaman seseorang terhadap stimulus tertentu (Robbins & Judge, 2009). Persepsi masyarakat sekitar kawasan konservasi sangat menentukan keberhasilan upaya pelestarian, sebab masyarakat desa penyangga berinteraksi langsung dengan kawasan dan sangat ketergantungan terhadap sumberdaya yang tersedia.

Oleh karena itu, dukungan, sikap dan persepsi masyarakat mempengaruhi pkepatuhan terhadap aturan, partisipasi dalam kegiatan konservasi serta keberhasilan program pengelolaan partisipatif (Johnson et al., 2022). Hasil penelitian menemukan bahwa masyarakat Desa Jangga Baru, kabupaten Batanghari, provinsi Jambi, memiliki persepsi yang rendah terhadap fungsi Tahura STS. Masyarakat cenderung memandang kawasan lebih bermanfaat apabila dialih fungsikan menjadi perkebunan, dibandingkan menjalankan fungsi konservasi, pendidikan maupun penelitian.

Fungsi pendidikan :

Persepsi masyarakat terhadap fungsi pendidikan menunjukkan kategori buruk (33,33%), dapat disimpulkan bahwa mayoritas responden menunjukkan ketidak setujuan terhadap beberapa aspek yang berkaitan dengan peran Tahura STS dalam meningkatkan ilmu pengetahuan dan pendidikan masyarakat, bahkan tidak ada responden yang menyatakan sangat setuju terhadap pernyataan yang diajukan.

BACA JUGA  Pelabuhan dan Terminal Untuk Kepentingan Sendiri

Hal ini dikarenakan masyarakat sudah terlalu jauh mengeksplotasi perambahan kawasan menjadi perkebunan dan tingginya permintaan kayu bulian (Eusideroxylon zwageri). Masyarakat akan memperhatikan hutan jika memberikan kontribusi lebih dari sisi ekonomi (Agustin et al., 2024). Hal ini berbanding terbalik dengan Dewi et al., (2019) di Tahura Wan Abdul Rachman, Lampung, yang menemukan dukungan positif masyarakat terhadap penangkaran satwa
endemik sebagai sarana pendidikan dan ekowisata yaitu penangkaran Rusa (Cervus sp).

Hasil wawancara menyebutkan beberapa alasan masyarakat tidak memiliki persepsi yang baik terhadap keberadaan Tahura STS, diantaranya:
1. Responden menyadari bahwasannya keanekaragaman flora dan fauna di Tahura STS sudah sangat minim, dan responden menganggap bahwasanya tidak ada lagi nilai ilmu pengetahuan dan pendidikan di dalamnya, sebab masyarakat mengatahui sebagian besar luasan Tahura STS telah dialih fungsikan menjadi perkebunan.
2. Minimnya sumber informasi ataupun penyuluhan dari pihak terkait berdampak pada rendahnya pengetahuan masyarakat akan fungsi Tahura STS yang seharusnya.
3. Tahura STS sudah tidak memiliki kekhasan baik dari segi ekosistem dan tingkat keanekaragaman hayati, dari nilai kondisi biofisik, lanskap, vegetasi, kekayaan religi, situs purbakala, dan plasma nutfah yang sangat rendah.

Fungsi Penelitian :

Hasil penelitian menunjukkan bahwa persepsi masyarakat terhadap fungsi Tahura STS sebagai wadah penelitian berada pada kategori buruk (33,33%). Temuan ini mengindikasikan bahwa responden merasakan ketidakhadiran partisipasi masyarakat dalam kegiatan penelitian. Kondisi ini berpotensi menghambat peningkatan pengetahuan lokal, sehingga memperlebar jarak antara dunia akademik dan masyarakat, serta mengurangi peluang masyarakat untuk berkontribusi dalam pengelolaan Tahura STS.

Padahal, kehadiran masayarakat merupakan langkah strategis yang efektif untuk melindungi ekologi dan meningkatkan modal penghidupan masyarakat (Valenzuela et al., 2020). Sejalan dengan Afrianto, (2025) menyatakan bahwa praktik kehutanan masyarakat di berbagai negara terbukti dapat mengintegrasikan aspek konservasi dengan pertumbuhan ekonomi.

BACA JUGA  Rencana Kerja dan Masalah Yang Dihadapi DLH Kabupaten Batang Hari

Fungsi Sosial Budaya :

Persepsi masyarakat terhadap fungsi Tahura STS pada aspek sosial budaya masuk kategori sedang (44,61%). Hal ini menunjukkan bahwasannya Tahura STS berperan dalam memperkuat hubungan sosial dan kebersamaan antar individu dalam masyarakat setempat terkhusus para perambah di areal kawasan. Contohnya yang paling sering dilakukan masyarakat ialah gotong royong dalam memperbaiki akses jalan yang digunakan sebagai jalur transportasi keluar masuk hutan. Masyarakat menyadari tindakan merambahan hutan adalah sebuah pelanggaran, sehingga tidak bisa mengharapkan pemerintah untuk memperbaiki jalan.

Namun demikian, masyarakat menyebutkan bahwa SAD yang menjadi identik dari kawasan Tahura STS sudah memiliki kehidupan yang sama dengan masyarakat sekitarnya, hal ini menjadi bukti hilangnya nilai-nilai budaya (Prasetijo, 2018; Indrizal & Anwar, 2023).

Fungsi Wisata dan Rekreasi :

Persepsi masyarakat terhadap fungsi wisata dan rekreasi Tahura STS berada pada kategori sedang dengan nilai 55,60%. Kehadiran glamour camping (glamping) di kawasan Tahura STS cenderung disambut kurang baik oleh masyarakat, hal ini dikarenakan masyarakat tidak dilibatkan secara langsung dan tidak adanya kesempatan untuk bermitra dengan pihak pengelola, sehingga manfaat ekonomi yang diharapkan belum dapat dirasakan
secara nyata.

Meski demikian, masyarakat tetap memiliki harapan bahwa keberadaan pariwisata dapat memberikan dampak positif terutama dalam meningkatkan perekonomian masyarakat sekitar. Safri, (2023) menyebutkan bahwa tahura STS memiliki nilai ekonomi wisata yang cukup signifikan sehingga potensial dikembangkan sebagai kawasan wisata
berbasis konservasi.

Penulis: Fazriyas1, Rince Muryunika1*, Eni Lestari1, Marwoto1, Ahyauddin1, Jamaluddin2.

1Jurusan Kehutanan, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi, Kampus Pinang Masak KM 15 Jalan Jambi – Ma. Bulian. 36361. Jambi.

2Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Jambi, Kampus Pinang Masak KM 15
Jalan Jambi – Ma. Bulian. 36361. Jambi. *Corresponding author: muryunika.r@unja.ac,id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *